JANGAN BUTA MAP! Berikut sejarah perpetaan di Indonesia yang harus diketahui!

Peta adalah penyajian informasi spasial permukaan/bawah permukaan bumi dalam skala tertentu dan digambarkan di atas bidang datar melalui sistem proyeksi. Peta dibuat guna menyajikan informasi muka Bumi yang berupa fakta, dunia nyata, baik bentuk permukaan buminya maupun sumberdaya alamnya. Informasi yang disajikan dalam peta biasanya menunjukkan posisi atau lokasi suatu tempat di permukaan bumi. Memperlihatkan ukuran (luas, jarak) dan arah suatu tempat di permukaan bumi. Menggambarkan bentuk-bentuk di permukaan bumi, seperti benua, negara, gunung, sungai, dan bentuk-bentuk lainnya.

Dalam perkembangannya peta sudah mulai dikenal dan digunakan sejak sebelum Masehi. Bangsa yang terkenal dalam perpetaan pada masa itu antara lain bangsa Yunani, Cina, Mesir, dan Babilonia.

Sejarah perpetaan di Indonesia

Kegiatan pemetaan di Indonesia dimulai sejak 8 Abad yang lalu yaitu saat pemerintahan Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1292 M. Ditemukan bukti adanya peta administratif pada masa pemerintahan Raden Wijaya.

Dalam artikel tulisan C.J Zandvliet pada Holland Horizon Volume 6 Nomor 1 Tahun 1944, yang isinya “Pada catatan sejarah Cina yang disusun pada tahun 1369 M dan 1370 M ditulis bahwa pada penyerbuan tentara Yuan ke Jawa tahun 1292-1293 M, Raden Wijaya menyerahkan peta administratif Kerajaan Kediri kepada penyerbu sebagai tanda menyerah.”

Laksamana Cheng Ho

Setelah pembuatan peta navigasi pertama oleh Laksamana Cheng Ho, pada abad 15 bersamaan saat Portugis melakukan ekspedisi mencari rempah-rempah ke Pulau Jawa dan Kepulauan Maluku, seorang kartografer yang ikut ekspedisi yaitu Francisco Rodrigues membuat peta perairan dan kepulauan yang dikunjungi.

Pada tahun 1540 tercatat dua bangsa Jerman yaitu Sebastian Münster (1488-1550) seorang kosmografer dan pembuat karya geografi ilustrasi paling popular abad 16 bersama pelukis dan pembuat cetakan yaitu Hans Holbein the Younger (1497-1543) mempublikasikan pertama kali Peta Sumatera (Taprobana) termasuk didalamnya Java Minor sebagai Borneo yang terletak di utara Jawa ( Java Mayor).

Peta P. Borneo

Selanjutnya, pada tahun 1548, bangsa Italia yaitu Cornelio Castaldi dan Girolamo Ramusio juga mempublikasikan peta Borneo yang posisinya lebih mendekati kebenaran dibandingkan peta Java Minor yang dibuat oleh Münster. Pada tahun 1561 terbit peta Pulau Jawa yang dikenal Java Insula buah karya Johannes Honter asal Hongaria dan Kronstad asal Norwegia.

Peta Java Insula

Cikal bakal survei dan pemetaan di Indonesia yaitu diawali oleh kedatangan Belanda di Nusantara. Akibat ditutupnya semua pelabuhan di Portugis bagi orang Belanda, mereka memutuskan untuk mencoba dan menemukan jalan sendiri ke daerah rempah-rempah di Timur. Untuk dapat mencapai tempat tersebut, mereka belajar sesuatu tentang perdagangan Asia, jalur pelayaran dan geografi ‘AsiaPortugis’. Selain itu, Belanda berusaha untuk mendapatkan satu set naskah peta yang dibuat oleh pembuat peta Spanyol, Bartolemeo de Lasso dan De Houtman bersaudara.

Peta Bartolomeo de Lasso

Pada tahun 1595, orang Belanda berlayar ke Timur dan tiba di Banten tahun berikutnya. Tak lama kemudian Belanda mendirikan kongsi dagang VOC, disinilah kegiatan survei dan pemetaan dilakukan secara intensif. Untuk mendukung kegiatannya memperoleh rempah-rempah, VOC mendirikan sebuah kantor pemetaan yang ditempatkan di galangan kapal di Batavia.

Mulai abad 17. peta perairan Indonesia buatan Belanda menjadi rujukan bangsa lain, mulai saat itu Belanda berpikir untuk membuat peta topografi militer dan sipil demi mempertahankan dan memperluas pengawasan di seluruh daerah kekuasaan. Mereka mulai membuat peta topografi daerah sekitar Batavia, Semarang dan tempat lain. Francois Valentijn (1666-1727) seorang anggota misionari, dalam menjalankan tugasnya memperoleh peta topografi dari beberapa kota di Jawa antara lain, Tanjung Bantam (Banten), Batavia (Jakarta), Cirebon, Mataram (Yogyakarta), Ponorogo, Surabaya, Pasuruan, dan Balambouang. F de Haan pada tahun 1780 melalui buku dengan judul “Platen Album Oud Batavia” mengkisahkan sejarah kota Batavia ; buku tersebut dilengkapi dengan peta kota Batavia tahun 1629, tahun 1740, dan tahun 1780 yang disajikan dalam bentuk peta hitam putih.

Peta Batavia 1629

Dalam usaha meningkatkan SDM, pada tahun 1782 didirikan sekolah untuk mendidik tenaga teknik, antara lain surveyor pemetaan yang berlokasi di Semarang, Jawa Tengah. Tenaga dibidang survei dan pemetaan semakin produktif menghasilkan produk-produk peta kala itu. Belanda mendirikan Depo Peta Laut yang kemudian berkembang menjadi Bureau Hidrographic Departement van Marine. Bureau ini menerbitkan Bericht aan Zee verenden (B.A.Z) yang kini menjadi Berita Pelaut Indonesia (BPI).

Pada pertengahan abad ke-19, orang Indonesia mulai memainkan peran yang penting dalam pembuatan peta. Peran sebagai pemberi informasi berubah menjadi sebuah peran yang lebih aktif dalam survey dan pembuatan peta. Pada tahun 1850-an, pemuda Jawa dari keluarga bangsawan mulai bekerja pada Dinas Topografi, dan mulai tahun 1899 lebih banyak lagi orang Indonesia yang di didik sebagai ahli topografi.

Pioner yang perlu ditulis sebagai pembuat peta Indonesia adalah Franz Wilheim Junghuhn (1804–1864). Pada saat pertama kali datang ke Indonesia, Junghuhn bertugas sebagai dokter tentara, kemudian ia tertarik pada survey ing; tahun 1835 sampai tahun 1848 ia mendapatkan kesulitan untuk menjelajahi seluruh Jawa. Hasil survey yang dilakukan tersebut disajikan pada peta topografi, peta biologi, serta peta geologi Jawa. Pekerjaan ilmiah yang dilakukan tersebut menghasilkan publikasi yang berjudul “Java, Zyne gedaante, zyne platentooi en inwendigebouw” (1853) (Java, the shape, flora and its inner structures) dengan jumlah 4 volume dilengkapi peta Jawa skala 1:450.000, suatu penyajian peta topografi pertama dalam bentuk berwarna.

Peta Jawa karya Franz Wilheim Junghuhn

Pada abad ke 19, orang-orang pribumi mulai aktif bekerja di Dinas Topografi hingga pada abad ke 20 Dinas Topografi mempekerjakan sekitar 500 orang yang sebagian besar adalah bangsa Indonesia. Sebuah pencapaian yang baik, pada tahun 1938 Dinas Topografi menerbitkan sebuah karya besar yaitu Atlas van Tropisch Netherland. yang merupakan peta Indonesia yang rinci yang menjadi dasar untuk pembuatan dan penerbitan atlas sekolah.

Atlas van Tropisch Netherland

Hingga tahun 1969, peta Indonesia yang digunakan merupakan produk pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu informasi tentang pengetahuan geospasial, termasuk sumber daya alam dan lingkungan wilayah tanah air masih sangat terbatas. Saat itu baru sekitar 15% dari wilayah daratan Indonesia yang dicakup oleh peta topografi skala 1:50.000 yang terkontrol secara geodetik dan hanya 26% peta kompilasi skala 1:100.000 dan skala 1:500.000, sisanya berupa sket peta-peta skets.

Setelah terbentuk pemerintahan baru, pada tahun 1969 diterbitkan Keputusan Presiden no.83 tanggal 17 Oktober 1969 tentang pembentukan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) yang menetapkan badan koordinasi ini sebagai aparatur pembantu pimpinan pemerintah yang berkedudukan langsung dibawah presiden dan bertanggung jawab kepada presiden RI. Salah satu produk unggulan BAKOSURTANAL yaitu peta rupabumi (RBI).

Badan Informasi Geospasial (BIG) lahir untuk menggantikan BAKOSURTANAL yang berkantor di Kompleks Cibinong Science Center. Lahirnya BIG ditandai dengan ditandatanganinya Peraturan Presiden Nomor 94 tahun 2011 mengenai Badan Informasi Geospasial pada tanggal 27 Desember 2011. Hampir seluruh wilayah Indonesia telah dipetakan oleh BAKOSURTANAL dengan menggunakan skala yang berbeda-beda. Untuk Wilayah Indonesia Barat telah dibuat peta dengan skala 1:25.000 sedangkan Wilayah Timur Indonesia bervariasi dari skala 1:100.000 sampai dengan skala 1:250.000.

Peta Modern

Visualisasi Peta SIG

Penggunaan komputer dalam pemrosesan data geospasial dimulai pada periode ini. Peta digital pertama kali dikembangkan menggunakan komputer mainframe, tetapi keterbatasan daya komputasi membatasi kompleksitas dan ukuran peta yang dapat dihasilkan.

Hingga munculnya Sistem Informasi Geografis yang memungkinkan integrasi data geospasial dan analisis spasial menggunakan komputer. SIG memungkinkan penyimpanan, pengolahan, dan visualisasi data geografis secara digital.

Google Maps

Selain itu, perkembangan internet memungkinkan peta digital diakses secara online. Google Maps diluncurkan pada tahun 2005, membawa pemetaan digital ke dalam jangkauan publik secara global.

Kemajuan dalam pemetaan satelit dan penggunaan teknologi drone juga memberikan sumber data geospasial yang lebih baik dan lebih cepat, memperbarui peta digital secara dinamis.

Hingga saat ini, pengembangan peta digital interaktif dan aplikasi berbasis lokasi semakin berkembang pesat. Ini mencakup aplikasi pemetaan untuk ponsel pintar dan tablet, memungkinkan pengguna mendapatkan arah dan informasi lokasi secara real-time. Pada akhirnya peta digital menjadi alat utama untuk navigasi dan informasi lokasi.


Laman: 1 2

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai